
Festival Nata Jagad 2026 berlangsung meriah di Mandala Nusantara Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, Gresik.
Gresik, newsIndonesia.id – Festival Nata Jagad 2026 berlangsung meriah di Mandala Nusantara Pura Penataran Luhur Medang Kamulan, Gresik.
Puncak acara digelar pada Selasa (30/6) dan berlanjut pada Rabu (1/7) dengan rangkaian sembahyang serta berbagai kegiatan budaya dan spiritual. Mengusung tema "Mengembalikan Kesadaran Jiwa Melalui Nitisa Puja, Dalam Perbedaan Kita Bersaudara, Dalam Budaya Kita Berkarya Menuju Nusantara Jaya", festival ini menjadi ruang perjumpaan berbagai suku, budaya, dan agama untuk memperkuat semangat persatuan Indonesia.
Ketua Panitia, Arya Nyoman Gayatri Dewi, mengatakan, Festival Nata Jagad tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga membawa misi menghidupkan kembali semangat penyatuan Nusantara yang diwariskan para leluhur.
"Salah satu pokok pikirannya adalah menghidupkan kembali visi penyatuan Nusantara, semangat persatuan yang dahulu digagas oleh para leluhur," kata Arya, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, semangat yang diwariskan Raja Sri Kertanegara dari Singasari dan Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit harus terus ditanamkan kepada generasi penerus sebagai fondasi menjaga keutuhan bangsa.
Nilai tersebut diwujudkan melalui pembacaan Ikrar Sumpah Amukti Palapa oleh Romo Sepuh Satya Buana Medang Kamulan. Prosesi itu menjadi simbol komitmen untuk menjaga persatuan, keharmonisan, dan keutuhan Nusantara.
Festival juga memadukan nilai kebangsaan dengan spiritualitas. Seluruh rangkaian acara diawali dengan pengumandangan lagu Indonesia Raya, pembacaan Pancasila, serta Pembukaan UUD 1945 sebagai penegasan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Salah satu momen paling menyentuh adalah Doa Lintas Iman, yang dipimpin oleh tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Penghayat Kepercayaan. Doa bersama tersebut menjadi simbol kuat kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.
Selain sarat pesan kebangsaan, Festival Nata Jagad 2026 juga menyuguhkan beragam pertunjukan seni budaya Nusantara selama hampir empat jam.
Acara dibuka dengan atraksi Pecut dan Bantengan dari Mojokerto, disusul Tari Gatot Kaca. Penonton kemudian disuguhkan Tari Lebur Roso, Tari Nusantara Medang Kamulan, Tari Nusantara persembahan Sanggar Pancer Langit Bali, hingga Tari Jaran Goyang.
Puncak pertunjukan ditandai dengan penampilan maestro tari legendaris, Eyang Didik Nini Thowok, yang membawakan Tari Kang Cing We, karya yang memadukan unsur budaya Tionghoa dan Bali dalam satu harmoni.
Suasana semakin khidmat menjelang penutupan melalui penampilan grup musik etnik asal Tengger, Hilakustik. Festival kemudian ditutup dengan lagu Indonesia Pusaka yang dinyanyikan bersama seluruh peserta.
Arya menegaskan, Festival Nata Jagad merupakan pengingat bahwa kebudayaan dan spiritualitas dapat menjadi jembatan untuk memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman.
"Festival ini menjadi pengingat bahwa melalui kebudayaan dan pendekatan spiritual, kita tidak hanya mengenang warisan leluhur, tetapi juga terus bekerja sama merawat toleransi demi kejayaan Nusantara, baik hari ini maupun di masa depan," pungkasnya. (wn)
Tags
Budaya