Belajar Hidup Berdampingan dari Jejak Sejarah Singosari

Heritage Peace Trip  kegiatan perjalanan edukatif ke berbagai situs bersejarah yang menyimpan kisah tentang toleransi, perdamaian, dan kesetaraan di Indonesia.

Malang, newsIndonesia.id - Program Peace Heritage merupakan inisiatif yang mendorong generasi muda untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama melalui pengenalan sejarah, nilai-nilai kemanusiaan, serta praktik perdamaian. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk Heritage Peace Trip, yakni perjalanan edukatif ke berbagai situs bersejarah yang menyimpan kisah tentang toleransi, perdamaian, dan kesetaraan di Indonesia.

Sebagai bagian dari program tersebut, Peace Leader Indonesia bekerja sama dengan Rumah Edukasi Creative dan Komunitas Masyarakat Adat Singhasari menggelar kegiatan Jelajah Sejarah dan Budaya pada Minggu (14/6) di kawasan Singosari, Kabupaten Malang. Peserta mengunjungi sejumlah situs bersejarah, antara lain Pura Bhuana Kertha, Candi Singosari beserta Arca Dwarapala, serta Candi Sumberawan.

Selain kunjungan lapangan, peserta juga mengikuti sesi dialog budaya dan kesetaraan gender bersama Tuswati atau Bu Tusi, pendiri sekaligus pengelola Patirtan Sumberawan. Dalam kesempatan tersebut, Bu Tusi berbagi pengalaman spiritual yang mengantarkannya membangun ruang budaya yang mampu merawat hubungan lintas iman. Melalui tempat yang dikelolanya, masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berinteraksi dan beribadah dalam suasana yang saling menghormati.

Kegiatan ini diikuti sekitar 65 peserta yang berasal dari berbagai daerah, seperti Singosari, Kota Malang, Madiun, hingga Lembata. Para peserta berasal dari beragam latar belakang agama dan budaya, termasuk mahasiswa, pemuda lintas iman, samanera dan atthasilani dari STAB Batu Jawa Timur, serta mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur, Sumba, dan Lombok.

Ketua Peace Leader Indonesia, Redy Saputro, menjelaskan bahwa kawasan Singosari menyimpan banyak warisan sejarah yang masih terawat dengan baik dan menjadi bukti kejayaan masa lalu. Candi Singosari menjadi simbol kebesaran Kerajaan Singhasari, sementara Arca Dwarapala dikenal sebagai salah satu patung penjaga terbesar di Indonesia. Di sisi lain, Candi Sumberawan merupakan stupa bersejarah yang hingga kini menjadi pusat peringatan Hari Raya Waisak bagi umat Buddha di Kabupaten Malang.

Tak jauh dari situs-situs tersebut, terdapat Pura Bhuana Kertha yang berada di Kompleks Kertanegara Lanud Abdulrachman Saleh. Pura yang dibangun pada 1975 itu menjadi salah satu simbol keberagaman dan keharmonisan kehidupan beragama di wilayah Singosari.

Menurut Redy, keberadaan situs sejarah dan tempat ibadah dari berbagai tradisi keagamaan menjadikan Singosari sebagai ruang belajar yang ideal untuk memahami sejarah, keberagaman, toleransi, dan perdamaian. Melalui interaksi dengan masyarakat setempat serta kunjungan ke berbagai situs budaya dan keagamaan, peserta dapat memperdalam pemahaman tentang pentingnya hidup berdampingan, menghormati perbedaan, dan menjaga warisan budaya sebagai perekat sosial.

Kegiatan ini juga sejalan dengan misi Peace Leader Indonesia dalam mengembangkan program Peace Heritage. Program tersebut dirancang untuk mempertemukan pemuda dari berbagai latar belakang agama, budaya, dan identitas sosial guna mengeksplorasi nilai-nilai historis maupun spiritual yang terkandung dalam situs-situs budaya dan keagamaan. Melalui kunjungan lapangan, diskusi reflektif, dialog lintas iman, serta pembelajaran bersama tokoh masyarakat dan pengelola situs, peserta diajak membangun perspektif yang lebih inklusif terhadap keberagaman.

Dengan menjadikan Singosari sebagai lokasi kegiatan, para peserta tidak hanya memperoleh wawasan mengenai sejarah dan kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mempraktikkan nilai-nilai toleransi, kesetaraan, perdamaian, dan penghormatan terhadap keberagaman. Pengalaman tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang memiliki jiwa kepemimpinan inklusif serta komitmen kuat dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

Sementara itu, Koordinator Rumah Edukasi Creative Malang, Hiafid, menilai bahwa kegiatan jelajah sejarah dan budaya perlu terus dikembangkan dengan pendekatan yang kreatif. Menurutnya, metode tersebut menjadi cara efektif untuk mengajak mahasiswa dan generasi muda belajar mengenai perdamaian melalui sejarah, tradisi, dan kearifan lokal yang dimiliki Indonesia. (fsl)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال