![]() |
| Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bantul, Yogyakarta, datang langsung untuk melihat pola pembinaan yang diterapkan di Kota Probolinggo. |
Probolinggo, newsIndonesia.id – Keterbatasan fasilitas tak menghalangi panjat tebing Kota Probolinggo melahirkan atlet berprestasi. Justru capaian tersebut membuat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Bantul, Yogyakarta, datang langsung untuk melihat pola pembinaan yang diterapkan di Kota Probolinggo.
Studi tiru itu berlangsung di GOR Panjat Tebing Kota Probolinggo. FPTI Bantul ingin menggali pengalaman dan strategi pembinaan atlet yang dinilai mampu menghasilkan prestasi meski ditopang fasilitas yang masih sederhana.
Pelatih FPTI Kota Probolinggo Iwan Rosidi, mewakili Ketua Umum FPTI Kota Probolinggo Gusnur, mengatakan, prestasi yang diraih selama ini merupakan hasil dari pembinaan berkelanjutan dan kerja keras para pelatih serta atlet.
“Walaupun tempat kami sederhana, Alhamdulillah FPTI Kota Probolinggo termasuk salah satu cabang olahraga yang banyak menyumbangkan medali emas. Ini menjadi kebanggaan bagi kami,” ujar Iwan. Sabtu (19/9/2026)
Menurutnya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti membina atlet. FPTI Kota Probolinggo terus memberikan ruang bagi atlet muda untuk berkembang dengan dukungan pelatih yang konsisten mendampingi mereka.
“Kami terus mencetak atlet-atlet terbaik dari anak sejak dini. Selain juga memiliki pelatih-pelatih tangguh yang terus memberikan semangat kepada generasi penerus untuk mempertahankan nama baik Kota Probolinggo,” katanya.
![]() |
| Studi Tiru untuk mempelajari langsung sistem pembinaan yang diterapkan FPTI Kota Probolinggo. |
Sementara itu, Sujarwo, anggota FPTI Bantul, Yogyakarta, menuturkan, kunjungan ini dimanfaatkan untuk mempelajari langsung sistem pembinaan yang diterapkan FPTI Kota Probolinggo.
"Ada sejumlah hal yang dapat diadopsi dari proses pembinaan atlet panjat tebing di Kota Probolinggo, terutama dalam upaya mencetak atlet berprestasi," pungkasnya
Kegiatan studi tiru ini sekaligus menjadi ruang pertukaran pengalaman antardaerah. Prestasi yang lahir dari keterbatasan fasilitas diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan pembinaan panjat tebing di daerah lain. (wn)

