Probolinggo,newsIndonesia.id - Perkembangan media siber di Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat seiring kemajuan teknologi digital. Kemudahan akses teknologi, biaya operasional yang relatif rendah, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) membuat pendirian media online semakin mudah dilakukan. Namun, di balik pertumbuhan tersebut muncul tantangan besar terkait kualitas dan keberlanjutan jurnalisme profesional.
Hal itu disampaikan Ketua Tim Peneliti Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya, Dr. Yuventius Sugianto, MM, dalam penelitian bertajuk Transformasi Kinerja Media Siber melalui Kepemimpinan Digital dan Keamanan Siber yang dipaparkan di Probolinggo, Selasa (23/6/2026).
Menurut Yuventius, perkembangan media digital membuka peluang besar bagi industri informasi dan ekonomi kreatif. Namun, pesatnya pertumbuhan jumlah media tidak selalu diikuti dengan penguatan tata kelola perusahaan pers.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jawa Timur, hanya sekitar 153 media yang tercatat terverifikasi melalui organisasi perusahaan pers. Angka tersebut menunjukkan bahwa dari ribuan media siber yang beroperasi, hanya sebagian kecil yang memiliki legalitas dan tata kelola kelembagaan yang jelas.
"Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara pertumbuhan jumlah media dan kualitas pengelolaan perusahaan pers. Tidak semua media memiliki fondasi yang kuat untuk menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional," ujarnya.
Penelitian yang kini diperluas ke tingkat nasional itu juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi. Jika sebelumnya media massa menjadi sumber utama informasi, kini media sosial semakin mendominasi karena menawarkan kecepatan dan kemudahan akses.
Akibatnya, media siber tidak hanya bersaing dengan sesama perusahaan pers, tetapi juga dengan platform digital yang mengandalkan algoritma untuk menentukan distribusi informasi. Kondisi ini mendorong sebagian media lebih fokus mengejar trafik dan jumlah pembaca demi mempertahankan keberlangsungan usaha.
Di sisi lain, tekanan persaingan tersebut berpotensi memengaruhi kualitas jurnalistik. Kecepatan publikasi sering menjadi prioritas, sementara proses verifikasi informasi menghadapi tantangan yang semakin besar.
Selain itu, rendahnya tingkat literasi masyarakat juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kemampuan masyarakat dalam memilah informasi yang benar dan dapat dipercaya masih menjadi tantangan di tengah derasnya arus informasi digital. Media siber dinilai tidak hanya memiliki fungsi bisnis, tetapi juga tanggung jawab untuk meningkatkan literasi publik melalui penyajian informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui penelitian ini, tim peneliti akan dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi industri media siber Indonesia, termasuk faktor-faktor yang memengaruhi kinerja media di tengah tekanan ekonomi digital, dominasi media sosial, serta perubahan perilaku audiens.
Berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan rekomendasi bagi penguatan industri media siber nasional, sekaligus menjawab pertanyaan penting mengenai masa depan jurnalisme di era digital: apakah pertumbuhan media siber akan memperkuat demokrasi informasi, atau justru memunculkan persaingan yang menggerus kualitas jurnalistik. (wn)
Tags
Investigasi
