Makna Zuhud di Tengah Hiruk Pikuk Zaman: Pesan Imam Al-Ghazali Kembali Menggema

Foto: Imam Al-Ghazali.(Dok:NI)

Probolinggo, newsIndonesia.id- 
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, kegelisahan batin kerap menjadi persoalan yang tak terhindarkan. Tekanan ekonomi, ambisi karier, hingga standar hidup yang terus meningkat membuat banyak orang merasa lelah, meski secara materi tampak berkecukupan.

Fenomena ini kembali disorot melalui pesan klasik dari kitab Al-Mawa’izh fi Al-Ahadis Al-Qudsiyyah karya Imam Al-Ghazali yang belakangan ramai dibagikan di berbagai platform media sosial. Nasihat tersebut mengangkat konsep zuhud, yakni sikap tidak menggantungkan hati sepenuhnya pada urusan duniawi, sebagai kunci ketenangan dan kebahagiaan sejati.

Dalam pesannya, Imam Al-Ghazali menggambarkan bagaimana manusia yang terlalu mencintai dunia justru terjebak dalam kelelahan lahir dan batin. Hati menjadi gelisah, hidup terasa penuh kesibukan, namun tetap diliputi rasa kekurangan. Ambisi yang tak berujung membuat seseorang terus mengejar, tanpa pernah benar-benar merasa cukup.

Salah satu penekanan penting dalam nasihat itu adalah soal rasa syukur. Manusia sering kali luput menyadari bahwa umur terus berkurang, sementara rezeki Allah SWT datang silih berganti setiap hari. Dalam salah satu kutipannya disebutkan, “Dengan rezeki sedikit kau tak puas, dan dengan rezeki banyak kau tak pernah kenyang.” Sebuah pengingat bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada jumlah harta, melainkan pada rasa cukup atau qana’ah.

Pesan tersebut juga menyinggung hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta. Imam Al-Ghazali mengingatkan adanya ironi dalam perilaku manusia: menikmati rezeki dari Allah SWT, namun kerap lalai dan berani bermaksiat kepada-Nya. Tak jarang, rasa takut kepada sesama manusia justru lebih besar dibandingkan rasa takut melanggar perintah Tuhan.

Meski demikian, konsep zuhud bukanlah ajakan untuk meninggalkan dunia atau berhenti bekerja. Inti dari nasihat ini adalah menata hati agar dunia tidak menjadi tujuan utama hidup. Ketika seseorang mampu melepaskan keterikatan berlebihan pada dunia, ketenangan batin akan hadir, dan rezeki justru datang dengan cara yang tak disangka-sangka.

Pesan klasik Imam Al-Ghazali ini kembali relevan sebagai pengingat bahwa di tengah gemerlap dunia, ketenangan sejati hanya dapat diraih dengan kembali pada akar spiritual dan menempatkan dunia sekadar di tangan, bukan di hati.

Wallahu a’lam bish-shawab.

(Opini)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال