5 Rahasia di Balik Ketertarikan Wanita pada Suami Orang

Fenomena Psikologis: Mengapa Sebagian Wanita Tertarik pada Pria Beristri.(Dok:NI)


Probolinggo,newsIndonesia.id
– Fenomena ketertarikan sebagian wanita terhadap pria yang telah beristri kerap memicu perdebatan di ruang publik. Meski sering dipandang negatif dari sudut pandang moral dan sosial, para pakar psikologi menilai ada faktor psikologis tertentu yang melatarbelakangi ketertarikan tersebut.

Dalam kajian psikologi hubungan, fenomena ini tidak muncul secara tunggal, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah motif yang saling berkaitan. Setidaknya, terdapat lima faktor utama yang kerap menjelaskan mengapa pria beristri dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi sebagian wanita.

Salah satunya adalah efek pre-selection, yakni anggapan bahwa pria yang telah menikah dianggap memiliki kualitas yang telah “terverifikasi”. Status pernikahan dipersepsikan sebagai bukti bahwa pria tersebut mampu berkomitmen, bertanggung jawab, serta layak dijadikan pasangan. Validasi sosial inilah yang secara tidak sadar meningkatkan daya tarik mereka.

Selain itu, pria beristri juga kerap dipandang memiliki kematangan emosional dan finansial yang lebih stabil. Dibandingkan pria lajang, mereka dinilai lebih tenang, mapan, dan mampu memberikan rasa aman. Sikap protektif serta pengalaman hidup yang lebih panjang menjadi faktor yang menarik, terutama bagi wanita yang memprioritaskan stabilitas dalam hubungan.

Faktor lain yang turut berperan adalah keinginan untuk menghindari tekanan komitmen jangka panjang. Bagi sebagian wanita yang memiliki trauma masa lalu atau ketakutan terhadap pernikahan, hubungan dengan pria beristri dianggap lebih “aman” karena tidak disertai tuntutan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Hubungan semacam ini dipersepsikan sebagai relasi tanpa beban tanggung jawab domestik.

Aspek psikologis berikutnya adalah sensasi terlarang. Hubungan yang bersifat rahasia dan berisiko memicu adrenalin tinggi, yang kerap disalahartikan sebagai rasa cinta atau gairah mendalam. Padahal, menurut psikolog, emosi tersebut umumnya bersifat sementara dan tidak mencerminkan ikatan emosional yang sehat.

Tak kalah penting, para ahli juga menyoroti adanya manipulasi citra pria ideal. Dalam banyak kasus, pria yang menjalin hubungan di luar pernikahan hanya menampilkan sisi terbaiknya. Mereka sering memosisikan diri sebagai pendengar yang baik, penuh perhatian, bahkan mengaku sebagai korban dalam rumah tangganya. Citra ini kerap memancing naluri empati dan keinginan wanita untuk “menyelamatkan”.

Meski demikian, para pakar mengingatkan bahwa hubungan yang dibangun di atas fondasi tidak sehat berisiko tinggi berakhir dengan kekecewaan. Relasi semacam ini tidak hanya merugikan pihak ketiga, tetapi juga berpotensi melukai pasangan sah dan diri sendiri.

“Memahami faktor psikologis bukan berarti membenarkan perilaku tersebut,” ujar seorang psikolog hubungan. Kesadaran dan batasan etis tetap menjadi kunci dalam membangun hubungan yang sehat dan bertanggung jawab.


(Opini)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال