Menemukan Ketenangan di Tengah Hiruk Pikuk Zaman, Ini Resep Hati Tenang ala Imam Al-Ghazali

Foto: Ilustrasi Ulama Besar Imam Al- Ghazali.(Dok:NI)

Probolinggo,newsIndonesia.id
 – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, kegelisahan kerap menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Tuntutan pekerjaan, arus informasi tanpa henti, hingga tekanan sosial membuat banyak orang sulit menemukan ketenangan batin. Namun, jauh sebelum era digital hadir, ulama besar Imam Al-Ghazali telah merumuskan konsep ketenangan hati yang hingga kini tetap relevan.

Imam Al-Ghazali, yang dikenal sebagai Hujjatul Islam, menjelaskan bahwa ketenangan sejati bukanlah kondisi tanpa masalah atau hiruk pikuk. Ketenangan, menurutnya, adalah keadaan spiritual yang disebut thuma’ninah, yakni tetapnya hati pada kebenaran serta hilangnya kegoncangan akibat keraguan dan dorongan hawa nafsu.

Dalam berbagai karya dan nasihatnya, Al-Ghazali merangkum sejumlah langkah praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk meraih ketenteraman batin.

Enam Kunci Menuju Hati yang Tentram

Pertama, menjaga adab terhadap waktu. Al-Ghazali menilai kegelisahan sering muncul ketika seseorang merasa hidupnya tidak terarah. Dengan mengatur waktu sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, seseorang akan menjalani hidup dengan lebih tertib dan bermakna.

Kedua, menyendiri sejenak untuk refleksi. Menurutnya, mengambil jarak dari keramaian penting untuk mendengarkan suara hati, melakukan muhasabah, serta mengenali kondisi batin secara jujur.

Ketiga, mengurangi konsumsi berlebihan. Al-Ghazali mengingatkan bahwa terlalu banyak makan, bicara, dan tidur justru memberatkan jiwa. Dengan hidup sederhana dan secukupnya, hati akan terasa lebih ringan dan tenang.

Keempat, melawan penyakit hati dengan kebalikannya. Ia mengajarkan metode pengobatan batin yang unik, yakni menghadapi emosi negatif dengan perilaku yang berlawanan. Misalnya, rasa takut miskin dan kikir dilawan dengan memperbanyak sedekah.

Kelima, menghadirkan dzikir yang berkualitas. Dzikir, menurut Al-Ghazali, tidak sebatas ucapan lisan atau hitungan tasbih, tetapi harus mampu menghadirkan kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan di dalam hati.

Keenam, menerapkan prinsip qana’ah atau merasa cukup. Banyak kegelisahan bersumber dari keinginan yang tak kunjung terpenuhi. Al-Ghazali menegaskan bahwa ketenangan lahir dari sikap menerima apa yang dimiliki setelah berusaha secara maksimal.

“Ketenangan hati adalah saat hati tetap pada kebenaran dan rasa tentram muncul karena hilangnya kegoncangan akibat keraguan,” ujar Imam Al-Ghazali dalam salah satu nasihatnya.

Ajaran klasik tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah gemerlap dunia modern, ketenangan sejati tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki secara lahiriah, melainkan oleh kemampuan mengelola dan menata hati.

(Opini)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال