
Ribuan warga Suku Tengger di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, menggelar Ritual Nyadran yang menjadi puncak rangkaian perayaan Hari Yadnya Karo.
Probolinggo, newsIndonesia.id – Ribuan warga Suku Tengger di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, menggelar Ritual Nyadran yang menjadi puncak rangkaian perayaan Hari Yadnya Karo. Tradisi tahunan ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk mendoakan para leluhur sekaligus memohon keberkahan, keselamatan, dan perlindungan dari bencana alam.
Sejak pagi, warga berbondong-bondong mendatangi kompleks pemakaman leluhur dengan membawa sesaji dan perlengkapan ritual. Suasana berlangsung khidmat saat doa-doa dipanjatkan sebagai bentuk penghormatan kepada para sesepuh yang telah mendahului.
Penjabat Kepala Desa Sapikerep, Agus Cahyo Raharjo, mengatakan, Ritual Nyadran merupakan warisan budaya masyarakat Tengger yang terus dilestarikan secara turun-temurun. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari perayaan Hari Yadnya Karo yang sarat akan nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan.
"Selain mengenang jasa para leluhur, masyarakat Tengger juga memanjatkan doa agar senantiasa diberikan kesehatan, hasil panen yang melimpah, kehidupan yang sejahtera, serta dijauhkan dari berbagai bencana alam yang dapat mengancam kawasan lereng Bromo," katanya
Sementara Romo Dukun Desa Sapikerep, Wisnoyo, menjelaskan, bahwa Nyadran memiliki makna mendalam sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.
"Tradisi sakral ini juga mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta," ujarnya
ia menambahkan, bagi masyarakat Tengger, Nyadran tidak hanya menjadi ritual keagamaan dan adat, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarsesama warga. Momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
"Masyarakat berharap Ritual Nyadran tetap lestari sebagai salah satu kearifan lokal yang menjadi identitas Suku Tengger," pungkasnya
Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini diyakini tetap relevan karena mengandung nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta rasa syukur atas kehidupan yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa. (wn)