![]() |
| Foto Ilustrasi tangan wanita dan pria.(Dok:NI) |
Probolinggo, newsIndonesia.id – Hubungan cinta sejatinya tidak pernah bisa dipaksakan. Ketika perasaan hanya berjalan satu arah, bertahan justru kerap menjadi sumber luka yang berkepanjangan. Banyak orang memilih tetap tinggal, meski pasangan tak lagi memahami siapa dirinya sebenarnya.
Padahal, melepaskan sering kali menjadi langkah paling bijak. Ketidakhadiran seseorang suatu hari nanti bisa menjadi pengingat betapa berharganya kebersamaan yang dulu pernah ada. Namun, menyadari hal itu bukanlah tanggung jawab kita.
Memaksakan sebuah hubungan agar berhasil, sementara sejak awal tidak ada niat bersama untuk memperjuangkannya, sama artinya dengan perlahan menghancurkan hati sendiri. Seseorang tidak bisa dipaksa untuk peduli, apalagi dipaksa untuk setia.
Dalam perspektif spiritual, dikenal pula konsep bahwa beberapa jiwa hadir dalam hidup kita karena ikatan karma—bukan untuk bersama selamanya, melainkan untuk saling belajar dan menyelesaikan pelajaran tertentu. Ketika kewajiban itu selesai, perpisahan akan menemukan jalannya sendiri. Selalu ada pemantik yang akhirnya memisahkan.
Karena itu, setiap upaya menunjukkan cinta perlu dilakukan dengan penuh kesadaran. Jangan sampai kehilangan jati diri hanya demi memperbaiki sesuatu yang sejatinya memang tidak pernah utuh sejak awal.
Sebuah hubungan sehat membutuhkan timbal balik. Tak mungkin mendapatkan cinta yang dibutuhkan dari seseorang yang tidak siap membalasnya. Pengorbanan seharusnya berbanding lurus dengan perhatian dan komitmen, bukan hanya menjadi beban sepihak.
Menerima kenyataan bahwa seseorang bukan takdir kita memang menyakitkan. Namun, menangis dari pagi hingga malam tidak akan mengubah garis hidup yang telah ditetapkan. Kadang, keikhlasan justru menjadi pintu menuju ketenangan.
Pengalaman banyak orang menunjukkan, kebahagiaan tidak selalu datang dari memiliki pasangan. Tak sedikit yang justru menemukan damai dengan memilih hidup sendiri atau menjadi orang tua tunggal, dibanding bertahan dalam hubungan yang tidak memberi nilai tambah, kenyamanan, maupun rasa aman untuk masa depan.
Pada akhirnya, hidup di bumi adalah tentang mencari ketenteraman—bukan memaksakan kebersamaan yang hanya menyisakan kesedihan. Melepaskan bukan berarti kalah, melainkan bentuk keberanian untuk mencintai diri sendiri.
(Opini)
