![]() |
| Foto: Ilustrasi Kesalahan Fatal yang sering dilakukan setelah putus cinta. |
Probolinggo,newsIndonesia.id- Putus cinta kerap meninggalkan luka emosional yang tak mudah pulih. Namun, bukan hanya perpisahan itu sendiri yang menyakitkan cara seseorang menyikapi perpisahan justru sering menjadi faktor utama yang membuat proses penyembuhan berjalan lebih lama.
Sejumlah pakar hubungan menyebut, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam pola perilaku keliru setelah hubungan berakhir. Alih-alih pulih, mereka justru terperangkap dalam rasa kehilangan yang berlarut-larut.
Berikut beberapa kesalahan fatal setelah putus cinta yang paling sering terjadi:
Pertama, masih menyimpan harapan mantan akan berubah.
Harapan kecil seperti “siapa tahu dia sadar” kerap menjadi jebakan emosional. Sikap ini membuat seseorang sulit benar-benar move on, sementara mantan pasangan mungkin telah melanjutkan hidupnya.
Kedua, melakukan stalking secara diam-diam.
Meski mengaku sudah “no contact”, sebagian orang masih memantau media sosial mantan, menggunakan akun palsu, atau mencari kabar lewat teman. Kebiasaan ini memicu ingatan akan luka lama dan membuat proses pemulihan terhambat.
Ketiga, terus menyalahkan diri sendiri.
Refleksi diri memang penting, namun menyiksa diri dengan penyesalan berlebihan justru menjadi racun emosional. Hubungan yang gagal umumnya bukan disebabkan oleh satu pihak semata.
Keempat, memutuskan balikan tanpa perubahan nyata.
Pola putus–rindu–balikan sering berujung pada luka yang sama. Jika sikap, kebiasaan, dan masalah inti tidak berubah, hubungan tersebut bukan lagi tentang cinta, melainkan keterikatan trauma (trauma bonding).
Kelima, berpura-pura kuat di depan publik.
Banyak orang menampilkan kebahagiaan di media sosial, padahal diam-diam menahan tangis. Menekan emosi bukan tanda ketangguhan, melainkan hanya menunda ledakan perasaan.
Keenam, mencari pengganti sebagai pelarian.
Masuk ke hubungan baru tanpa benar-benar sembuh sering membawa luka lama, membandingkan pasangan, bahkan berpotensi menyakiti orang lain.
Ketujuh, menunggu penutupan (closure) dari mantan.
Sebagian orang menanti penjelasan atau kejelasan dari pasangan yang telah pergi. Padahal, penutupan sejati justru datang dari diri sendiri, bukan dari orang yang memilih meninggalkan.
Para pemerhati kesehatan mental mengingatkan, rasa rindu setelah putus cinta adalah hal yang wajar. Namun kembali kepada orang yang sama belum tentu menjadi keputusan yang tepat.
Kesadaran untuk memproses emosi secara sehat, memberi ruang pada diri sendiri, serta belajar dari pengalaman menjadi kunci utama agar luka batin dapat sembuh dan tidak terulang di masa depan.
(Opini)
