Menikah dengan Mantan Selingkuhan, Bahagia atau Penuh Risiko? Ini Realitas Psikologisnya

Foto:Ilustrasi pasangan wanita dan pria lagi berdua.(Dok:NI)

Probolinggo,newsIndonesia.id
– Pernikahan yang berawal dari hubungan perselingkuhan masih menjadi topik yang kerap memicu perdebatan. Di satu sisi, pasangan meyakini cinta dapat mengalahkan masa lalu. Namun di sisi lain, realitas psikologis dan sosial sering kali menjadi tantangan besar yang membayangi rumah tangga tersebut.

Sejumlah pengamat hubungan menyebut, pernikahan yang dimulai dari perselingkuhan memiliki dinamika yang lebih kompleks dibandingkan hubungan yang terjalin secara konvensional. Salah satu persoalan utama adalah rapuhnya fondasi kepercayaan.

Dalam banyak kasus, muncul keraguan bawah sadar pada salah satu atau kedua pasangan. Pikiran seperti “jika ia pernah mengkhianati pasangannya demi saya, apa jaminannya ia tidak akan melakukan hal yang sama di masa depan” kerap menghantui dan memicu kecurigaan berlebihan dalam kehidupan rumah tangga.

Selain krisis kepercayaan, tekanan sosial juga menjadi beban tersendiri. Hubungan yang bermula dari luka pihak lain umumnya minim dukungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Stigma sosial dan rasa bersalah terhadap masa lalu dapat menumpuk menjadi tekanan emosional, yang jika tidak dikelola dengan baik berpotensi memicu konflik internal.

Fase romantis dalam hubungan semacam ini pun dinilai cenderung singkat. Perselingkuhan sering terasa intens karena dilakukan secara tersembunyi dan dipicu adrenalin. Namun ketika memasuki pernikahan yang sarat rutinitas, tanggung jawab finansial, serta persoalan rumah tangga, sensasi tersebut perlahan memudar. Tak sedikit pasangan yang terkejut ketika mendapati realitas pasangan hidup tidak seideal bayangan saat masih menjalin hubungan terlarang.

Meski demikian, bukan berarti pernikahan semacam ini mustahil untuk bahagia. Para ahli menilai kebahagiaan masih dapat diraih dengan syarat kedua pihak memiliki akuntabilitas dan komitmen untuk berubah. Pengakuan atas kesalahan masa lalu serta proses penyembuhan bersama menjadi kunci utama agar pola komunikasi dan penyelesaian masalah tidak kembali terulang.

Catatan penting lainnya, berbagai data menunjukkan bahwa hubungan yang dimulai dari perselingkuhan memiliki risiko kegagalan lebih tinggi. Pola penyelesaian konflik yang cenderung “mencari pelarian” dibandingkan memperbaiki masalah menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Kesimpulannya, kebahagiaan dalam pernikahan yang berawal dari perselingkuhan memang mungkin terjadi. Namun pasangan dituntut bekerja dua kali lebih keras untuk membangun kepercayaan yang sejak awal telah retak, sekaligus membuktikan bahwa masa lalu tidak lagi menjadi penentu masa depan.


(Opini)



Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال