Fenomena “Puber Kedua” Emak-Emak di Media Sosial, Antara Eksistensi dan Pencarian Jati Diri

Foto Emak-Emak lagi Puber ke dua (Dok:Ni)

Probolinggo,newsIndonesia.id
– Istilah pubertas yang selama ini identik dengan masa pencarian jati diri remaja, kini mengalami pergeseran makna di era digital. Di media sosial, muncul fenomena sosial yang kerap disebut sebagai “puber kedua”, merujuk pada perilaku sebagian perempuan dewasa atau ibu rumah tangga yang tampil semakin ekspresif dan mencolok di ruang digital.

Media sosial seolah menjadi panggung baru bagi kelompok ini. Perempuan yang sebelumnya dikenal tenang dan fokus pada peran domestik, kini tampil percaya diri di depan kamera. Mulai dari berjoget, melakukan siaran langsung berjam-jam, hingga menuliskan caption emosional yang memantik beragam respons dari warganet.

Fenomena ini ramai diperbincangkan karena dianggap berbeda dari stereotip peran perempuan dewasa pada umumnya. Namun, di balik sorotan tersebut, terdapat dinamika sosial dan psikologis yang patut dicermati.

“Puber kedua” bukanlah istilah medis, melainkan fenomena sosiologis. Sejumlah pengamat menilai fase ini muncul sebagai respons atas perubahan peran dalam kehidupan. Ketika anak-anak mulai tumbuh mandiri atau hubungan rumah tangga memasuki fase monoton, sebagian perempuan merasakan kekosongan emosional.

Setelah bertahun-tahun mencurahkan perhatian untuk keluarga, muncul dorongan untuk kembali diakui dan dirasakan keberadaannya. Media sosial kemudian hadir sebagai ruang yang menawarkan validasi instan melalui jumlah suka, komentar, hingga pesan pribadi yang memberikan perhatian cepat dan berulang.

Menariknya, perilaku dalam fase ini kerap dinilai lebih berani dibandingkan remaja. Hal tersebut disebabkan tidak adanya lagi batasan pengawasan orang tua maupun rasa takut akan sanksi sosial seperti yang dialami anak sekolah.

Dengan kematangan usia, keberanian untuk tampil menjadi pusat perhatian justru semakin besar. Namun, dalam beberapa kasus, dorongan untuk diakui membuat pertimbangan rasional kerap terabaikan demi satu pesan implisit: aku masih ada dan ingin diperhatikan.

Berdasarkan pengamatan di berbagai platform media sosial, terdapat sejumlah indikator yang kerap muncul dalam fenomena “puber kedua”, di antaranya intensitas unggahan yang sangat tinggi, perubahan gaya penampilan secara drastis, serta ketergantungan pada respons audiens.

Selain itu, interaksi dengan lawan jenis dan keterbukaan emosi di ruang publik juga menjadi ciri yang menonjol. Media sosial tak lagi sekadar sarana hiburan, melainkan berubah menjadi ruang utama untuk mengekspresikan perasaan, keluh kesah, hingga konflik pribadi.

Menyikapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tidak serta-merta mencibir atau menghakimi. Keinginan untuk tampil menarik dan diakui merupakan kebutuhan manusiawi yang wajar.

Namun, kunci utamanya terletak pada kesadaran diri. Validasi digital sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur harga diri. Media sosial idealnya menjadi sarana ekspresi, bukan ruang pelarian yang justru mengaburkan tanggung jawab dan nilai-nilai moral.

Pada akhirnya, menjadi dewasa bukan berarti berhenti menikmati hidup, melainkan mampu merayakan eksistensi diri secara sehat, seimbang, dan bertanggung jawab di tengah derasnya arus media sosial.


(Opini)

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال